LAZISNU DIY Luncurkan Program Inkubasi 2026: Strategi Dorong UMKM Naik Kelas dan Mandiri

Yogyakarta – Sebagai langkah nyata menanggulangi kemiskinan dan memperkuat ekonomi masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), NU Care-LAZISNU DIY resmi menggulirkan Program Inkubasi Bisnis UMKM. Mengusung tema “Akselerasi Transformasi UMKM Naik Kelas dan Berdaya Saing Global 2026”, program pendampingan ini dirancang agar para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah memiliki daya saing yang tinggi dan keberlanjutan usaha yang kuat.

Ketua NU Care-LAZISNU DIY, Dinik Rahajeng Fitri Pangestuti, mengungkapkan bahwa meski UMKM menjadi pilar utama ekonomi warga, mereka masih sering terbentur masalah manajemen, keterbatasan modal, serta minimnya penguasaan teknologi dan pemasaran digital. Guna mengatasi hambatan tersebut, diperlukan inkubasi yang terencana dengan baik agar pelaku usaha bisa berkembang ke level yang lebih tinggi.

Pendekatan Komprehensif dan Ekosistem Kolaboratif

Program ini menerapkan metode menyeluruh yang menyasar berbagai aspek krusial, meliputi:

  • Pola pikir kewirausahaan (entrepreneurial mindset).

  • Tata kelola manajerial dan keuangan yang sehat.

  • Inovasi produk serta digitalisasi bisnis.

Demi membangun ekosistem pemberdayaan berbasis komunitas yang solid, LAZISNU DIY bersinergi dengan lintas sektor. Kolaborasi ini melibatkan sejumlah perguruan tinggi dan badan otonom (Banom) NU di Yogyakarta, seperti:

  • Akademisi: Universitas Alma Ata, UIN Sunan Kalijaga, UNU Yogyakarta, IIQ An-Nur, dan STAIYO.

  • Lembaga & Komunitas: Lembaga Perekonomian NU DIY, Komunitas Relawan Ambulans NU DIY, Fatayat NU DIY, serta Muslimat NU DIY.

Fasilitas, Kriteria Peserta, dan Target Program

Para peserta yang lolos akan dibekali dengan berbagai materi esensial, mulai dari penyusunan Business Model Canvas (BMC), manajemen operasional dan keuangan, strategi branding, legalitas hukum, hingga peluang akses ke investor. Rangkaian kegiatan juga dikemas secara intensif melalui bootcamp, sesi mentoring, studi banding ke usaha yang sukses, hingga pendampingan berkelanjutan pasca-inkubasi.

Kriteria Peserta: Program ini menargetkan pelaku UMKM di bidang kuliner, fesyen, kriya, maupun jasa digital yang telah beroperasi minimal dua tahun dan berkomitmen penuh untuk maju.

Di akhir program, para peserta ditargetkan telah menguasai dokumen rencana bisnis (business plan) yang matang, mengantongi izin legalitas resmi, memiliki media digital yang aktif, serta laporan keuangan yang rapi agar lebih mudah mendapatkan akses permodalan. LAZISNU DIY juga berkomitmen memberikan dukungan penguatan usaha yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap sektor.

Optimalisasi Dana ZIS untuk Dampak Jangka Panjang

Inkubasi bisnis ini dijadwalkan berjalan dari Juni 2026 hingga Februari 2027. Target utamanya adalah melahirkan UMKM yang mandiri dan mampu menciptakan lapangan kerja baru.

Miftahul Khoiri, Pengurus Bidang Penyaluran NU Care-LAZISNU DIY, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan wujud transformasi pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Melalui program produktif seperti ini, manfaat dana ZIS tidak lagi bersifat konsumtif jangka pendek, melainkan menjadi stimulus ekonomi yang berkelanjutan bagi kesejahteraan keluarga dan masyarakat luas.

Melalui integrasi antara jiwa usaha, peningkatan kapasitas SDM, dan adopsi teknologi, program ini diharapkan dapat menjadi percontohan ideal bagi pemberdayaan ekonomi umat yang inklusif di wilayah Yogyakarta.

ARTIKEL BERITA LAINNYA