

Di usia 65 tahun, saat kebanyakan orang menikmati masa tua bersama anak cucu, Ibu Sulasmi justru harus berjuang dalam sunyi. Hidup sebatang kara di gubuk sederhananya, beliau tidak hanya bergelut dengan kemiskinan, tapi juga keterbatasan komunikasi yang membuatnya sulit menyampaikan keluh kesah kepada dunia. Setiap hari, tangan senjanya masih lincah memukul biji melinjo menjadi keripik emping. Meski tenaganya tak lagi kuat, inilah satu-satunya cara beliau menjaga martabat agar tidak sekadar menengadah tangan. Namun, penghasilan dari emping tentu jauh dari cukup. Untuk menyambung nyawa, Ibu Sulasmi seringkali bergantung pada belas kasih tetangga yang mengirimkan sepiring nasi.
Mirisnya, rumah yang beliau tinggali saat ini jauh dari kata layak:
Melalui galangan dana ini, kami mengajak Sahabat Baik sekalian untuk memberikan "Kado Kemerdekaan" dari rasa sulit bagi Ibu Sulasmi. Seluruh donasi yang terkumpul akan dialokasikan untuk :
Segera tunaikan donasi melalui LAZISNU PWNU DI Yogyakarta dengan mudah :
Jazakumullohu khoiron katsiran
Aamiin aamiin aamiin yaa Rabbal ‘Alamin
Sumber: PW NU CARE LAZISNU D.I. Yogyakarta
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik