SLEMAN, DIY — Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Jaringan Pengelola Zakat, Infak, dan Sedekah (JPZIS) BPR MSA menyerahkan bantuan 60 ekor kambing kepada masyarakat di kawasan Pentingsari, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bantuan tersebut merupakan bagian dari program zakat produktif yang diarahkan untuk mendorong kemandirian dan peningkatan ekonomi masyarakat.
Penyaluran bantuan tersebut dirancang tidak sekadar sebagai bantuan ternak, tetapi menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Para penerima manfaat akan diarahkan untuk bergabung dalam komunitas peternak serta mendapatkan pendampingan mulai dari penyediaan bibit, pengelolaan ternak, hingga pemasaran.
Direktur LAZISNU DIY, Edo Segara Gustanto, mengatakan zakat memiliki potensi besar untuk menjadi instrumen pemberdayaan apabila dikelola secara tepat, produktif, dan berkelanjutan.
Menurutnya, bantuan ternak yang diberikan diharapkan dapat menjadi aset ekonomi bagi penerima manfaat, sehingga manfaat zakat tidak berhenti pada saat bantuan diterima, tetapi terus berkembang dalam jangka panjang.
“Melalui program zakat produktif ini, kami berharap bantuan yang diberikan tidak hanya memberikan manfaat hari ini, tetapi juga dapat berkembang menjadi sumber penghidupan bagi penerima manfaat. Kambing yang disalurkan merupakan aset yang diharapkan dapat dikelola, dikembangkan, dan memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan,” ujar Edo Segara.
Ia menambahkan, model zakat produktif membutuhkan pendampingan agar aset yang diterima mustahik dapat berkembang secara optimal. Karena itu, sinergi antara lembaga zakat, JPZIS, komunitas, dan masyarakat menjadi penting dalam memastikan keberlanjutan program.
Sementara itu, Direktur Utama BPR MSA, Y Triagung Pujiantoro, mengatakan program bantuan produktif tersebut merupakan bagian dari strategi BPR MSA dalam memberikan manfaat ekonomi yang lebih berkelanjutan kepada masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.
“Tak hanya hadiah, BPR MSA juga kembali menyalurkan bantuan produktif berupa 60 ekor kambing kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan. Bantuan tersebut diarahkan menjadi bagian dari komunitas peternak yang mendapatkan pendampingan mulai dari penyediaan bibit hingga pemasaran,” ujar Triagung.
Ia menjelaskan, pemberian kambing tersebut dirancang tidak sekadar sebagai bantuan konsumtif, tetapi sebagai modal produktif yang dapat dikembangkan oleh masyarakat. Dengan membentuk komunitas peternak, penerima manfaat diharapkan dapat saling berbagi pengetahuan sekaligus memperoleh akses pendampingan yang lebih terarah.
“Ini salah satu strategi kami. Kami juga memberikan bantuan produktif berupa 60 ekor kambing yang nantinya diperoleh penduduk sekitar yang membutuhkan. Kemudian dijadikan komunitas peternak dan mendapat pendampingan dari mulai mendapatkan bibit sampai pemasarannya,” tambah Triagung.
Menggabungkan Olahraga, UMKM, dan Pemberdayaan
Menurut Triagung, konsep pemberdayaan tersebut menjadi salah satu nilai tambah dalam kegiatan Dewi Mlayu Deso di tengah maraknya penyelenggaraan event olahraga lari. Kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan aktivitas olahraga, tetapi juga mengintegrasikan berbagai unsur pemberdayaan masyarakat.
Selain olahraga, kegiatan tersebut melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta menghadirkan program produktif yang secara langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Tidak hanya menghadirkan aktivitas olahraga, kegiatan ini juga menggabungkan undian hadiah, keterlibatan UMKM serta program produktif bagi masyarakat,” jelasnya.
Triagung berharap kolaborasi dan program pemberdayaan masyarakat tersebut dapat terus berlanjut sehingga memberikan dampak jangka panjang bagi penerima manfaat.
“Kami berharap keberlangsungan ini berlanjut. Sesuai tema event ini, kita akan terus berlari, terus berbagi, saling sharing, kemudian bertumbuh dan berkelanjutan bersama,” katanya.
Menyasar Masyarakat Lereng Merapi
Triagung menambahkan, program pemberdayaan melalui bantuan ternak tersebut sejalan dengan segmentasi BPR MSA yang selama ini banyak menyasar masyarakat di kawasan lereng Merapi. Pendampingan terhadap masyarakat peternak telah menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi lokal.
“Kami memang punya segmentasi di masyarakat lereng Merapi. Kami punya ribuan ekor kambing dan ratusan komunitas yang kami dampingi,” pungkasnya.
Ke depan, program pemberdayaan tersebut terbuka untuk dikembangkan ke wilayah lain di Daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk kawasan selatan seperti Kota Yogyakarta, Bantul, Kulonprogo, hingga Gunungkidul.
Kolaborasi LAZISNU DIY dan JPZIS BPR MSA melalui penyaluran 60 ekor kambing ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan model pengelolaan zakat yang berorientasi pada pemberdayaan. Bantuan ternak ditempatkan sebagai aset produktif yang diharapkan dapat berkembang menjadi sumber penghidupan bagi penerima manfaat.
Dengan pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan, program tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem peternakan berbasis komunitas, memperkuat ekonomi masyarakat, sekaligus menghadirkan manfaat zakat yang lebih panjang bagi para penerimanya.










